Jangan Cuma Percaya Tulisan “Alami” di Kemasan! Begini Cara Memilih Makanan yang Lebih Bijak
14 Agustus 2026
Pernah nggak, saat belanja di supermarket atau minimarket, mata kita langsung tertarik pada kemasan dengan tulisan:
“Alami”
“Natural”
“Homemade”
“Terbuat dari bahan pilihan”
Rasanya lebih meyakinkan, ya?
Tanpa sadar, kita bisa berpikir, “Kalau ada tulisan alami, berarti lebih sehat.”
Nah, ternyata urusannya tidak sesederhana itu.
Tulisan “alami” belum tentu berarti produknya sehat
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Food Quality and Preference menguji bagaimana label dan gambar bernuansa alami memengaruhi persepsi konsumen.
Penelitian tersebut melibatkan 790 orang dengan rentang usia 18–89 tahun.
Para peneliti memberikan beberapa contoh produk makanan ultra-proses dengan berbagai tampilan label.
Hasilnya menarik.
Ketika produk diberi tulisan seperti “homemade” atau menggunakan gambar yang memberi kesan alami, konsumen cenderung menganggap produk tersebut lebih sehat dan lebih tertarik membelinya.
Bahkan, pada beberapa produk, gambar bernuansa alami dapat menciptakan apa yang disebut “health halo”—sebuah kesan bahwa produk lebih sehat hanya karena tampilannya terlihat lebih alami.
Artinya?
Kita memang perlu hati-hati.
Bukan berarti semua produk yang memakai kata “alami” itu buruk.
Tetapi, jangan berhenti membaca hanya pada bagian depan kemasan.
Coba balik kemasannya
Ini kebiasaan sederhana yang sebenarnya sangat membantu.
Daripada hanya melihat tulisan besar di bagian depan, coba balik kemasan dan lihat:
1. Komposisinya apa saja?
Bahan pertama biasanya merupakan bahan yang jumlahnya paling besar.
Jadi jangan hanya melihat tulisan:
“Dengan bahan alami pilihan.”
Lihat juga apa saja bahan yang benar-benar digunakan.
2. Berapa kandungan gulanya?
Produk yang terlihat “alami” tetap bisa mengandung gula cukup tinggi.
Karena itu, kata alami bukan otomatis berarti rendah gula.
Hal yang sama berlaku untuk garam, lemak, dan energi.
3. Seberapa banyak produk tersebut diproses?
Tidak semua makanan olahan itu buruk.
Membuat tepung, memasak, mengeringkan, menggiling, atau mengolah bahan makanan dengan cara tertentu juga termasuk proses pengolahan.
Yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsi dan jenis produknya.
Penelitian besar mengenai makanan ultra-proses memang menemukan hubungan antara konsumsi yang lebih tinggi dengan berbagai risiko kesehatan.
Salah satu analisis terhadap lebih dari 138.000 orang di lima benua menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi berhubungan dengan risiko kematian yang lebih tinggi selama masa tindak lanjut.
Penelitian lain yang menggunakan data orang dewasa di Amerika Serikat juga menemukan bahwa setiap peningkatan 10 poin persentase kontribusi makanan ultra-proses terhadap energi harian berkaitan dengan sekitar 9% peningkatan risiko kematian dari semua penyebab setelah penyesuaian statistik.
Tetapi ada catatan penting:
Penelitian seperti ini terutama menunjukkan hubungan (association), bukan berarti satu makanan tertentu terbukti secara langsung menyebabkan kematian.
Jadi, jangan sampai kita menyimpulkan:
“Makanan olahan = pasti berbahaya.”
Itu juga terlalu sederhana.
Contoh beberapa foto produk yang dijual Pondok Alam:
• beberapa foto produk dari UMKM jogja yang sudah skala nasional


• beberapa foto produk dari UMKM jogja yang masih orisinil


Jadi, makanan seperti apa yang sebaiknya lebih sering kita pilih?
Sebenarnya prinsipnya cukup sederhana.
Cobalah lebih sering memilih bahan makanan utuh atau minim proses, seperti:
- beras dan biji-bijian
- sayuran
- buah
- kacang-kacangan
- rempah dan bumbu alami
- sumber protein yang sesuai kebutuhan
- bahan makanan dengan daftar komposisi yang sederhana
Bukan berarti kita harus mengharamkan makanan kemasan.
Bukan pula berarti semua makanan yang memiliki bahan tambahan otomatis buruk.
Kuncinya adalah pola makan secara keseluruhan.
Dan satu hal penting: jangan mudah tertipu kata-kata di kemasan
Di Indonesia sendiri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki ketentuan mengenai penggunaan keterangan seperti “alami”, “murni”, “100%”, “dari”, “dengan”, dan “asli” pada label pangan olahan.
BPOM juga menegaskan bahwa label pangan harus benar dan tidak menyesatkan.
Jadi, sebagai konsumen, kita sebenarnya punya hak untuk mendapatkan informasi yang jelas.
Dan sebagai konsumen, kita juga punya pekerjaan kecil:
Mau membaca sebelum membeli.
Jangan beli karena kemasannya terlihat sehat
Mulai sekarang, saat melihat produk dengan gambar daun hijau, buah-buahan, kebun, atau tulisan “natural”, coba berhenti sebentar.
Lalu tanyakan tiga hal:
“Komposisinya apa?”
“Berapa kandungan gulanya, garamnya, dan lemaknya?”
“Seberapa sering saya perlu mengonsumsi produk ini?”
Tiga pertanyaan sederhana ini jauh lebih berguna daripada sekadar percaya pada tampilan kemasan.
Karena pada akhirnya...
Makanan yang baik bukan hanya yang terlihat sehat.
Tetapi yang kita pahami isinya, kita konsumsi dengan bijak, dan menjadi bagian dari pola makan yang seimbang.
Itulah mengapa di Pondok Alam, kami percaya bahwa memilih makanan sebaiknya dimulai dari mengenal bahan dan membaca informasi, bukan hanya melihat tulisan besar di depan kemasan.
Karena menjadi konsumen yang cerdas tidak harus rumit.
Cukup mulai dari kebiasaan kecil:
“Balik kemasannya. Baca komposisinya.” 🌱
Sumber Penelitian & Referensi
-
Devia G, Forli S, Vidal L, Curutchet MR, Ares G. References to home-made and natural foods on the labels of ultra-processed products increase healthfulness perception and purchase intention: Insights for policy making. Food Quality and Preference. 2021;88:104110.
-
Kliemann N, et al. Ultra-processed food consumption and human health: an umbrella review of systematic reviews with meta-analyses. Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 2024.
-
Prospective Urban and Rural Epidemiology Study — analisis konsumsi makanan ultra-proses dan mortalitas pada 138.076 peserta di lima benua. The American Journal of Clinical Nutrition.
-
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia — ketentuan label pangan olahan.
